Saturday, April 4, 2009

ANALISIS STRUKTUR PASAR DAN PERILAKU USAHA BAK TRUK DI KOTA PALEMBANG

Oleh Yulia (IESP - FE Universitas Sriwijaya 2004)

1.1 Latar Belakang
Secara mikro, industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat saling mengganti yang sangat erat. Namun demikian, dari segi pembentukan pendapatan, yakni yang cenderung bersifat makro, industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah (Hasibuan, 1994: 12).
Menurut BPS tahun 2000, Jasa industri adalah kegiatan industri yang melayani keperluan pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah hanya melakukan pengolahannya, dengan mendapatkan imbalan sebagai balas jasa.
Pada umumnya industri kecil menggunakan teknologi yang sederhana dimana prosesnya dilakukan secara manual, sehingga industri kecil memiliki cirri padat karya. Tenaga kerja yang dipekerjakan pada industri kecil biasanya tidak mempersyaratkan tingkat pendidikan tinggi, tetapi lebih mengandalkan keterampilan. Dengan demikian, industri kecil akan lebih mudah untuk merekrut tenaga kerja dalam jumlah besar, yang berarti dapat ikut serta memperkecil angka pengangguran (dalam Nurhayati, 2004: 18).
Dipta (1998) berpendapat bahwa usaha industri kecil ini relatif cukup dominan dalam kehidupan ekonomi, dikarenakan sifat industri kecil ini yang padat karya dengan modal yang kecil, sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang relatif besar.
Pada saat krisis ekonomi yang menimpa Indonesia, kelompok usaha kecil ini adalah salah satu pelaku ekonomi yang dapat bertahan, bahkan semakin berkembang di tengah krisis multidemensial sejak tahun 1998. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa di Indonesia terdapat kurang lebih 40 juta pengusaha, di mana sekitar 90% merupakan pengusaha kecil.
Usaha kecil ini dapat bertahan karena mereka tetap mendapat keuntungan, sedangkan usaha skala besar sedang menderita kerugian. Dengan skala usaha dan modal yang kecil, mereka lebih mudah mengantisipasi perubahan pasar dan biasanya usaha kecil ini berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat, sehingga usaha kecil itu akan tetap hidup (contohnya usaha pembuatan makanan).
Jumlah usaha di Sumatera Selatan mencapai 545.103 unit usaha baik mikro, kecil, menengah, dan besar (lihat pada tabel 1). Palembang adalah salah satu kota di Sumatera Selatan yang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan.
Tabel. 1
Jumlah Usaha menurut Skala Usaha
Di Sumatera Selatan Tahun 2006

No Skala Usaha Jumlah
1 Usaha Mikro 473.496
2 Usaha Kecil 68.538
3 Usaha Menengah 2.387
4 Usaha Besar 655
5 Tak Dapat Diidentifikasi 27
Total 545.103
Sumber: BPS, Sensus Ekonomi 2006
Kota Palembang juga memiliki usaha-usaha kecil lainnya baik formal maupun informal. Sektor formal adalah sektor yang terdaftar pada pemerintah, sedangkan sektor informal adalah sektor yang tumbuh tanpa adanya pendaftaran dan izin dari pemerintah. Sektor informal tumbuh karena tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup pada sektor formal.
Salah satu usaha kecil di Kota Palembang adalah usaha bak truk. Usaha ini merupakan usaha pembuatan bak pada truk. Bak ini dipasang pada bagian balakang sebuah truk, digunakan untuk menampung barang dengan kapasitas tertentu. Usaha bak truk ini sangat penting sejalan dengan peningkatan jumlah pemakaian truk. Tanpa bak truk atau apabila bak truk sudah rusak, kegunaan dan arti sebuah truk akan berkurang bahkan menjadi tidak berguna, karena tidak dapat menampung barang. Jadi, usaha bak truk ini sangat diperlukan dalam proses pembaharuan sebuah truk agar fungsinya tidak hilang dan berkurang.
Terdapat dua jenis bak truk apabila dilihat dari bahan bakunya, yaitu bak truk kayu dan bak truk besi. Bahan baku kayu yang sering digunakan dalam pembuatan bak adalah kayu Petanang. Bak truk kayu lebih diminati oleh konsumen dibandingkan dengan bak truk besi. Hal ini terjadi karena: pertama, harga bak truk kayu lebih murah dibandingkan bak truk besi. Kedua, bak truk besi lebih berat dibandingkan bak truk kayu. Alasan-alasan inilah yang menjadi pertimbangan konsumen dalam menentukan jenis bak truk yang dibeli.
Dalam suatu industri ada tiga hal yang selalu menjadi perhatian, dikenal dengan paradigma S-C-P (Structure–Conduct–Performance) yaitu mengenai struktur pasar industri tersebut, perilaku industri dalam pasar, dan kinerjanya. Ketiga hal ini sangat berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Struktur pasar mempengaruhi perilaku, selanjutnya perilaku pasar menentukan kinerja pasar.
Rasio konsentrasi menggambarkan struktur pasar suatu industri. Tingkat konsentrasi yang tinggi maupun yang rendah memberikan arti yang berbeda pada struktur suatu industri. Tingkat konsentrasi juga bisa menimbulkan market power bagi industri. Dari market power yang dimiliki, perusahaan dalam industri tersebut dapat menguasai pasar dan dapat secara bebas menentukan harga pasar.
Harga dalam suatu usaha dapat menentukan kelangsungan hidup suatu usaha. Apabila menetapkan harga yang terlalu rendah, lama kelamaan perusahaan akan pailit. Sebaliknya jika menetapkan harga yang terlalu tinggi demi memperoleh laba yang besar akan berdampak pada jumlah permintaan barang tersebut, kemungkinan besar tak ada pembeli.
Untuk mengetahui mengenai struktur pasar pada usaha bak truk dan bagaimana penetapan harga pada bak truk, hanya mengikuti harga pasar atau menentukan sendiri harga jual produk, Atas pertimbangan hal diatas ini, penulis akan melakukan analisis “Struktur Pasar dan Perilaku Usaha Bak Truk di Kota Palembang”.

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur pasar usaha bak truk di Kota Palembang?
2. Bagaimana strategi penetapan harga bak truk di Kota Palembang?





1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur pasar dan cara penetapan harga yang digunakan oleh usaha bak truk tersebut dan berharap bahwa masyarakat semakin mengenal apa usaha bak truk tersebut.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Operasional
Penelitian dan penulisan ini dilakukan sebagai masukan utuk pihak-pihak yang berkepentingan.
2. Manfaat Akademik
Penelitian dan penulisan ini ditujukan bagi kalangan akademisi, yang dapat menambah dan memperkaya bahan kajian teori untuk pengembangan penelitian selanjutnya.
3. Manfaat Teknis
Mengaplikasikan teori-teori yang telah dipelajari untuk mendukung analisis pada penulisan makalah

1.5 Studi Pustaka
1.5.1 Landasan Teori
1.5.1.1 Teori Organisasi Industri
Mason (1939) dalam Robiani (2002:43) menyatakan bahwa model organisasi dan struktur dari struktur pasar menentukan perilaku dan kinerja. Dalam kerangka analisis industri, variable, struktur, perilaku, dan kinerja merupakan mata rantai yang tak dapat dipisahkan. Martin (dalam Robiani, 2002:44) menyatakan bahwa struktur pasar suatu industri akan menentukan perilaku industri dan kinerja dari industri tersebut.
Ada empat cara mengamati kaitan antara struktur, perilaku, dan kinerja. Pertama, hanya memperhatikan secara mendalam dua aspek, yakni kaitan struktur dan kinerka industri, sedangkan aspek perilaku kurang ditekankan. Kedua, pengamatan kinerja dan perilaku, dan kemudian dikaitkan lagi dengan struktur. Ketiga, menelaah kaitan struktur terhadap perilaku dan kemudian diamati kinerjanya. Keempat, kinerja tidak perlu diamati lagi, oleh karena telah dapat dijawab dari hubungan struktur dan perilakunya (Hasibuan, 1994:11).


Carlton & Perloff (dalam Susilo & Nugroho), Mason (1939) dan Bain (1956) adalah tokoh pertama yang menggunakan studi empiris dari teori S-C-P untuk membandingkan antarjenis industri. Dari studi tersebut menghasilkan bahwa ada hubungan antara struktur, perilaku, dan kinerja serta terdapat kemungkinan ada hubungan lain bahwa perilaku dan kinerja juga akan mempengaruhi struktur.

1.5.1.2 Struktur Pasar
Struktur menunjukkan ukuran atau distribusi perusahaan dalam pasar. Ukuran yang biasa digunakan sebagai indicator adalah market share dan konsentrasi. Market share diukur berdasarkan nilai penjualan, unit penjualan, unit produksi, kapasitas produksi, dan sebagainya. faktor-faktor yang menentukan struktur industri yaitu jumlah perusahaan, kondisi entry, dan kondisi permintaan (dalam Pelitasari, 2006:65).
Secara teoritis terdapat empat jenis struktur pasar, yaitu persaingan sempurna, monopoli, persaingan monopolistik, dan oligopoli. Empat jenis struktur pasar tersebut didasarkan pada karakteristik pasar yang meliputi jumlah dan ukuran distribusi para pembeli dan penjual, hambatan masuk, serta tingkat diferensiasi produk (Susilo & Ariani, 2003: 24-25).

1.5.1.3 Konsentrasi Industri
Tingkat konsentrasi ini dipandang sebagai indicator untuk melihat sehat tidaknya suatu industri. Konsentrasi adalah penjumlahan pasar dari perusahaan-perusahaan terbesar (umumnya 4 perusahaan). Nilai konsentrasi pasar tersebut dapat menunjukkan derajat oligopoly.
Studi Empiris oleh Bain dalam Firmansyah (2003) menunjukkan adanya hubungan positif antara entry conditions dan konsentrasi pasar terhadap kekuatan pasar. Semakin tinggi konsentrasi pasar maka semakin sulit bagi entrant untuk masuk kedalam pasar, sehingga kekuatan pasar semakin besar.
Ada beberapa pendapat mengenai tingkat konsentrasi. Pertama, Martin (dalam Pelitasari, 2006: 65) berpendapat jika CR4 > 40% maka pasar tersebut bersifat oligopoly. Kedua, Shepherd (dalam Pelitasari, 2006: 65) membagi beberapa jenis pasar berdasarkan rasio sebagai berikut: CR 100% adalah pure monopoli, CR1 > 40 % dan tak ada saingan yang berarti adalah dominant firm, CR4 > 60% adalah tight oligopoly, CR4 < 40% adalah persaingan efektif
Ketiga, Stigler (dalam Hasibuan, 1994: 109) mengatakan bahwa apabila perusahaan dapat menguasai 60% dari jumlah penjualan dalam suatu pasar barang, maka struktur pasarnya adalah oligopoly. Jadi, andil perusahaan yang dipegang oleh empat perusahaan terbesar dalam pendapat Stigler lebih tinggi. Keempat, Joe S. Bain (dalam Hasibuan, 1994: 109), pada ukuran Bain lebih fleksibel. Ada beberapa jenis oligopoly:
1. oligopoly penuh, apabila 3 perusahaan terbesar menguasai 87 % dari total penawaran suatu barang ke pasar.
2. oligopoly tipe kedua, apabila 4 perusahaan terbesar menguasai sekitar 72% penawaran, atau 8 perusahaan terbesar mempunyai andil 88%.
3. oligopoly tipe ketiga, apabila 4 perusahaan terbesar menguasai 61% atau 8 perusahaan terbesar menguasai 77%.
4. oligopoly tipe keempat, apabila empat perusahaan terbesar menguasai 38% atau 8 perusahaan terbesar menguasai 45%.
5. oligopoly tipe kelima, apabila empat perusahaan terbesar menguasai 32% dari penawaran suatu barang industri.

1.5.1.4 Teori Strategi Harga
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan pada suatu produk atau jasa atau sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen untuk memperoleh manfaat kepemilikan atau penggunaaan produk tertentu.
Tabel. 3
Model Penetapan Harga
Sumber: Philip Kotler, 1997:266
Harga akan berada pada tingkat antara yang terlalu rendah untuk memperoleh keuntungan dan yang terlalu tinggi untuk menghasilkan permintaan. Tabel 3 berikut, memperlihatkan bahwa harga dasar ditentukan oleh biaya. Harga pesaing dan harga barang pengganti adalah hal yang dipertimbangkan dalam penetapan harga. Harga tertinggi dibentuk karena adanya kekhasan suatu produk
Harga mark up merupakan metode penetapan harga yang paling dasar, yaitu dengan melakukan penambahan (markup) yang standar terhadap biaya produksi. Hal ini dengan memperkirakan biaya produksi dan menambahkan markup keuntungan dari harapan penjualan. Perhitungan harga per unit produk:


1.5.1.5 Teori Harga Mark Up Pricing

Suatu industri atau perusahaan menggunakan mark up pricing untuk mengalokasikan secara penuh biaya rata-rata dengan tujuan mendapatkan profit.
Rumusnya:



1.5.1.6 Teori Biaya Produksi
Menurut Sadono Sukirno (2005: 205), biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor produksi dan bahan mentah yang akan digunakan dalam menciptakan barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut.
Menurut jangka waktu, biaya dapat dibagi menjadi dua, yaitu biaya produksi dalam jangka pendek dan dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, sebagian faktor produksi dapat berubah, sedangkan dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat berubah.
Ada beberapa macam biaya dalam melakukan proses produksi (Sukirno, 1986: 208-209):
1. biaya total (TC) adalah keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan
2. biaya tetap total (TFC), keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya dalam jangka pendek
3. biaya variable total (TVC) adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya
4. biaya tetap rata-rata (AFC), biaya yang didapat dengan membagi biaya tetap total dengan jumlah produksi
5. biaya variable rata-rata (AVC), biaya tetap total dibagi dengan jumlah produksi
6. biaya rata-rata, biaya total dibagi dengan jumlah produksi
7. biaya marginal rata-rata(MC), kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah produksi satu unit.

Dalam analisis teori biaya produksi terdapat konsep biaya kesempatan. Dalam kosep tersebut dikenal biaya implisit dan biaya eksplisit. Biaya implisit adalah biaya yang tidak dihitung dalam biaya produksi, contohnya penggunaan faktor produksi pemilik usaha. Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata terlihat melalui laporan keuangan, seperti upah, biaya listrik. Biaya implisit merupakan biaya kesempatan (opportunity cost)
Biaya ekonomi (economic cost), selalu menghitung kedua biaya itu, yaitu biaya implisit dan eksplisit. Keuntungan ekonomi (economic profit) diperoleh dengan mengurangkan penerimaan total yang didapat dengan hasil penjumlahan biaya eksplisit dan implisit.
Dikatakan accounting cost, apabila hanya biaya ekplisit saja yang dimasukkan dalam perhitungan biaya. Accounting profit diperoleh dengan mengurangkan penerimaan total dengan biaya eksplisit.

1.5.1.7 Teori Diskriminasi Harga
Kebijakan diskriminasi harga merupakan kebijakan menjual output yang sama dengan harga yang berbeda, pada saat yang sama kepada konsumen (pasar) yang berbeda, dimana perbedaan harga bukan disebabkan oleh perbedaan biaya produksi. Tujuan yang ingin dicapai adalah menambah laba perusahaan melalui eksploitasi surplus konsumen.
Ada beberapa syarat agar diskriminasi harga (berdasarkan elastisitas permintaan), dapat berhasil:
a. perusahaan harus memiliki daya monopoli. Hanya perusahaan monopoli yang mampu melakukan diskriminasi harga
b. pasar dapat dibagi menjadi beberapa (minimal dua kelompok) yang elastisitas permintaannya berbeda
c. pembagian pasar harus efektif, dalam arti tidak memungkinkan terjadinya penjualan kembali dari konsumen yang menikmati harga yang lebih murah ke konsumen yang dibebani harga tinggi
d. MR di tiap pasar adalah sama agar diskriminasi harga menghasilkan laba maksimum.

1.5.2 Penelitian terdahulu
Pelitasari (2006) mengemukakan bahwa ada dua indikator kuantitatif yang sering digunakan dalam menentukan struktur, yaitu Rasio Konsentrasi (CR) dan Indeks Herfindahl (IH).
Clarke (dalam Nugroho & Susilo, 2007: 26), Keunggulan pendekatan S-C-P (Structure – Conduct – Performance) yang lebih dikembangkan oleh Mason (1939) dan Bain (1956). Mason, menekankan bahwa pentingnya struktur pasar dan obyek kondisi pasar lainnya merupakan kunci untuk mengidentifikasi pola umum dari perilaku dalam pasar. Studi yang dilakukan oleh Bain (1994) lebih menekankan pada hambatan masuk ke dalam industri, di mana konsentrasi pasar dan diferensiasi produk merupakan unsur penting dari struktur pasar.
Pesaing baru dalam industri atau pasar akan mengurangi konsentrasi apabila ukuran perusahaan tersebut relatif sama besar dengan ukuran perusahaan yang ada di industri tersebut. Adapun ukuran perusahaan dinilai dari produksinya dan kemempuannya merebut pangsa pasar (Geroski dalam Satriawan & Wigati (2002: 76).
Menurut klasifikasi Bain (1956) dalam penelitian Sumarno dan Kuncoro (2003), industri rokok kretek di Indonesia mempunyai struktur oligopoli dengan tingkat konsentrasi tinggi yang ditunjukkan oleh nilai konsentrasi rasio (CR4 / CR8) industri rokok keretek yang tinggi. Artinya, hambatan masuk dalam industri ini cukup besar sehingga tidak mudah bagi pemain baru yang masuk dalam industri ini. Kalau ada perusahaan baru biasanya adalah hasil akusisi dari perusahaan besar.
Industri sepeda motor di Indonesia termasuk struktur pasar persaingan monopolistik atau oligopoli longgar. Hal ini dibuktikan oleh Susilo (1996). Industri ini juga aktif dalam melakukan pengembangan produk. Persaingan antarproduk ini lebih kepada pelayanan purna jual bukan pada persaingan harga.

1.5.3 Kerangka Pemikiran
Gambar. 3

Gambar Alur Pikir
Dari model analisis organisasi industri, akan dilihat hubungan antara struktur pasar dan perilaku usaha bak truk di Kota Palembang. Hanya satu variable dari struktur pasar dan perilaku yang akan dilihat lebih jauh pada usaha bak truk tersebut.

1.5.4 Hipotesis
1. Struktur pasar pada usaha bak truk di Kota Palembang adalah persaingan tidak sempurna.
2. Strategi harga pada usaha bak truk di Kota Palembang adalah menggunakan biaya mark up dalam kegiatan operasional kerja usaha bak truk.


1.6 Metode Penelitian
1.6.1 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang, tepatnya dibeberapa kecamatan di Kota Palembang seperti kecamatan Kertapati, Sukarami, dan lainnya yang dapat mendukung dalam penelitian ini.

1.6.2 Jenis dan Sumber Data
Cara pengambilan data:
a. observasi
melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti yang berhubungan dengan penulisan skripsi.
b. wawancara
mengadakan tanya jawab langsung dengan pemilik usaha ataupun pekerjanya yang dianggap dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam penelitian.

Jenis data yang digunakan dalam penelitian:
1. Data Primer
Yaitu data yang dikumpulkan secara langsung dari objek yang di teliti
2. Data sekunder
Yaitu data yang diperoleh secara langsung yang berhubungan dengan permasalahan yang di teliti dan bersumber dari buku – buku pedoman, dan literatur lainnya.

1.6.3 Metode Penentuan Sampel
Sampel usaha bak truk yang akan diambil sebanyak 20-30 usaha bak truk. Pengambilan sampel usaha bak truk dengan metode purposive sampling(dengan sengaja mengambil daerah tertentu sebagai sampel karena daerah tersebut terdapat banyak usaha bak truk) dan random sampling (setiap anggota dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dimasukkan sabagai sampel).


1.6.4 Teknik Analisis
Teknik analisis yang dipakai dalam penulisan ini adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Teknik kuantitatif dipakai untuk menghitung tingkat konsentrasi pada usaha bak truk. Teknik kualitatif digunakan untuk menjelaskan strategi harga yang digunakan usaha bak truk tersebut, apakah mengikuti harga pasar atau menentukan harga sendiri dengan menggunakan biaya mark-up.

1.6.4.1 Rasio Konsentrasi
Dalam Nugroho dan Susilo, rasio konsentrasi atau concentration ratio mengukur proporsi dari keseluruhan total penjumlahan penjualan dalam industri berdasarkan perusahaan yang terbesar. Rasio konsentrasi dirumuskan sebagai berikut (Lipezynski & Wilson, 2001: 108):

Metode CR (Concentration Ratio) untuk menghitung market share dari beberapa perusahaan terbesar (biasanya 4 perusahaan terbesar / CR4) sehingga dapat menentukan jenis pasar pada industri tersebut. Tetapi, metode ini tak bisa mengetahui kontribusi setiap perusahaan dalam industri itu.

1.6.4.2 Indeks Herfindahl (IH)
Orris C. Herfindahl mengukur konsentrasi industri (IH) dengan formula (Hasibuan, 1994:116):

n = k
∑ x 2
i = 1
T

Metode IH ini, dihitung dengan penjumlahan kuadrat nilai output masing-masing perusahaan dalam industri. Indeks Herfindahl ini sangat sensitif terhadap andil perusahan yang terbesar, karena semakin kecil andil yang diberikan oleh suatu perusahaan, semakin kurang berarti dalam indeks ini ( kelebihan dari IH)
Nilai IH berkisar antara 0 dan 1. semakin besar nilai IH maka pasar semakin terkonsentrasi. Nilai IH = 1 menunjukkan konsentrasi hanya pada perusahaan (monopoli), sedangkan nilai IH mendekati 0 menggambarkan jumlah perusahaan yang banyak namun market share masing-masing perusahaan kecil.
Shepherd (dalam Epakarti : 2002) mengkategorikan nilai IH sebagai berikut:
a. HHI < 0,1, artinya pasar tak terkonsentrasi / tak terjadi monopoli
b. 0,1<HHI 1,8, artinya pasar sangat terkonsentrasi
Kelemahan Metode IH ini adalah membutuhkan dari seluruh perusahaan dalam industri, tapi seringkali untuk mengantisipasinya seringkali dihitung IH minimum yang menggunakan data dari beberapa perusahaan terbesar saja.

1.6.4.3 Perhitungan Strategi Harga
Harga per unit produk dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:

1.6.4.4 Perhitungan Harga Mark-Up
Perhitungan mark-up ditentukan menggunakan rumus:



dimana: m adalah mark up, dan ε adalah elastisitas

1.6.5 Batasan Operasional Variabel
1. Industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan sejenis yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunaannya.
2. Industri kecil adalah industri yang memiliki tenaga kerja antara 5-19 orang dengan nilai investasi kurang dari 200 juta rupiah, dimana tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
3. Bak truk adalah bak berbentuk segi empat yang dipasang di truk, terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menampung barang dalam kapasitas tertentu sesuai ukuran kendaraan yang memakainya.
4. Industri Bak truk merupakan proses pengubahan bahan dasar menjadi barang jadi, atau dari barang yang kurang nilainya manjadi bernilai tinggi dengan maksud seluruh atau sebagian hasilnya dijual untuk mendapatkan keuntungan.
5. Mark Up adalah persentase keuntungan yang didapat konsumen.
6. Harga adalah perbandingan sejumlah uang yang dikorbankan dengan barang atau jasa yang diterima (menurut Kotler, 1997).
7. Struktur menunjukkan ukuran atau distribusi perusahaan dalam pasar (Lely, 2006: 65).
8. Konsentrasi industri adalah derajat penguasaan pasar bagi perusahaan yang ada dalam industri (Teguh:125) atau pemusatan yang menghasilkan output terbesar dalam industri.
9. Di katakan pasar monopoli apabila terdapat satu perusahaan yang menguasai 100 persen pangsa pasar, tidak ada pesaing yang dapat masuk kedalam pasar (menurut Shepherd dalam Nugroho & Susilo).
10. Pasar persaingan monopolistik, terdapat empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar tidak lebih dari 40 persen dan jarang terjadi kolusi (menurut Shepherd dalam Nugroho & Susilo).
11. Pasar persaingan sempurna, terdapat lebih dari 50 pesaing dalam suatu industri, tak ada perusahaan yang berpotensi menguasai pasar, tingkat elastisitas harga cukup tinggi (menurut Shepherd dalam Nugroho & Susilo).


12. Oligopoli pekat (tight oligopoly) terjadi apabila terdiri atas empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar, empat perusahaan yang menguasai 60-100 persen pangsa pasar, dan memungkinkan terjadi kolusi(menurut Shepherd dalam Nugroho & Susilo).
13. Oligopoli longgar (Loose Oligopoly), apabila terdapat empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar tak lebih dari 40 persen, dan jarang terjadi kolusi (menurut Shepherd dalam Nugroho & Susilo).