Sunday, August 23, 2009

PERANAN KKPA DAN PENGGUNAAN PUPUK DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI[1]


Oleh : A. Irsan Firmansyah2)


ABSTRACT


The aims of the research are to identity factors affecting motivition of rubber smallholders participating in KKPA, to know the smallholder’s income differences before and after participating in KKPA, and to know factors of production that affect levels of rubber production at rubber plantation utilizing KKPA. The reseach was conducting in subdistricts of Blambangan Umpu and Baradatu, Lampung province, from September to December 2000, sample were selected by utilizing a simple random sample method which consist of 100 selected farmers having a two-hectare land. The data used in this study consist of primary and secondary data. The method of analysis used in this study is a regression technique. This technique is used to analyse that affect farmers in utilizing KKPA and to measure the affect of KKPA on farmer’s income. The results of KKPA show that farmer’s income increased after they became members of KKPA. Land utilizing and productivity also increased. Factors of production that affected production level significantly were Urea, TSP, and Kiersif. While KCL and pesticide didnot.
ABSTRAKSI


Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan faktor – faktor yang mempengaruhi petani karet untuk mengambil kredit KKPA, perbedaan pendapatan petani sebelum dan setelah menggunakan kredit KKPA serta untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat produksi karet pada perkebunan karet yang memanfaatkan kredit KKPA. Penelitian  ini dilakukan di Kecamatan Blambangan Umpu dan Baradatu Propinsi Lampung dari September sampai Desember tahun 2000, pengambilan sample dilakukan dengan acak yang terdiri dari 100 petani yang memilih lahan seluas dua hektar. Data yang digunakan untuk data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah metode regresi. Hasil dari perhitungan regresi menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat setelah menjadi anggota KKPA, serta pemanfaatan lahan dan produktifitas juga meningkat. Faaktor – faktor produksi mempengaruhi produksi secara signifikan atas urea, TSP, sedangkan KCL dan pestisida tidak mempengaruhi dengan signifikan.

Kata-kata kunci :  Kredit pupuk, pestisida, tenaga kerja, produksi

PENDAHULUAN

Sub sektor Kehutanan dan Perkebunan merupakan sub sektor yang dipandang sangat strategis khususnya komoditi karet. Tanaman karet terbukti mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam menghasilkan devisa negara. Hal ini disebabkan karena tidak kurang dari 12 juta rakyat Indonesia terlibat dalam - usaha tani perkaretan ini.

sMenurut International Rubber Study Group (IRSG), kekurangan pasokan karet alam adalah sekitar 800.983 ton, dengan demikian masih dimungkinkan adanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produksinya.  Walaupun belakangan ini harga karet di pasar internasional masih terus berfluktuasi, akan tetapi melemahnya nilai rupiah terhadap US dollar justru membuat harga karet di pasar domestik mengalami peningkatan.

Selain pertimbangan potensi pasar tersebut, pertimbangan lain yang sangat kondusif bagi bisnis perkaretan diantaranya adalah terimbasnya krisis moneter kepada dunia perkaretan domestik, dimana dengan adanya krisis moneter maka kegiatan ekspor produk perkebunan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap penerimaan devisa negara.  Dalam kaitan meningkatkan produksi yang sekaligus juga meningkatkan pendapatan petani, pemerintah telah memperbaiki berbagai program peningkatan investasi sektor produktif melalui beberapa skim kredit investasi dan modal kerja, misalnya Kredit Koperasi Primer untuk Anggotanya (KKPA), Kredit Usaha Tani (KUT) yang sekarang disebut Kredit Ketahanan Pangan (KKP), dan pengembangan pendapatan masyarakat.  Dengan demikian pertimbangan lain bagi peningkatan produksi karet, dalam rangka memenuhi peluang masih kurangnya pasokan karet alam, adalah kemudahan akses modal khususnya melalui KKPA. KKPA ini bertujuan  untuk mengembangkan perkebunan karet yang mempunyai nilai ekonomis dalam jangka panjang dan dapat memanfaatkan lahan tidur.

Guna memanfaatkan program pemerintah dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat melalui program   pengembangan  perkebunan dengan fasilitas KKPA tersebut,  maka  Koperasi  Unit  Desa  (KUD)  “Catur Tunggal”  yang

berkedudukan di Desa Sidohardjo telah melakukan pendekatan dan inventarisasi terhadap masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan perkebunan karet dengan memanfaatkan program pemerintah berupa pemberian kredit KKPA dan adanya kesediaan dari pihak PT. Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) untuk menampung hasil karet dan memberikan bimbingan teknis (technical assistence) bagi para petani sehingga diharapkan tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya akan meningkat dari pada sebelumnya.

Sampai saat ini, kegiatan pengembangan perkebunan karet melalui KKPA yang telah dan sedang dilakukan oleh KUD Catur Tunggal terdiri dari beberapa tahapan antara lain :

1.Tahap pertama dan tahap kedua telah dikembangkan Perkebunan Karet Rakyat   dengan pola KKPA masing-masing seluas 840 hektar dan 1.500 hektar.

2. Tahap ketiga sedang akan dikembangkan Perkebunan Karet Rakyat dengan pola KKPA seluas 3.500 hektar.

Areal perkebunan karet tersebut dikembangkan di wilayah Kecamatan Blambangan Umpu dan Kecamatan Baradatu dengan 13 Desa meliputi : Desa Sido Hardjo, Desa Bherata Yuda, Desa Bandar Dalam, Desa Gunung Katun, Desa Bumi Baru, Desa Gunung Sangkran, Desa Umpu Kencana, Desa Umpu Bhakti, Desa Sriwijaya, Desa Bumi Ratu, dan Desa Tanjung Sari.

Perkiraan tersebut nampak sejalan dengan   proyeksi   industri   karet   alam sebagai hasil penilaian Bank Dunia masing – masing peningkatan produksi sebesar 2,3 persen dan 2,7 persen /tahun, malah diatas tahun 2000 laju pertumbuhan karert alam dunia 2,5 persen sampai dengan 3,1 persen (Berger & Smith, 1994).

Kondisi masyarakat di kecamatan Blambangan Umpu Kabupaten Lampung Tengah yang selama ini hidup dari hasil pertanian berupa singkong / ubi kayu yang harganya selalu rendah dan dipermainkan oleh pabrikan, dari beberapa desa di daerah tersebut yang telah menanam karet yang dikembangkan oleh KUD Catur Tunggal dengan program kredit pemerintah dengan bunga murah (KKPA)  ternyata tingkat kehidupannya lebih baik.

Dengan diketahuinya bahwa dari prospek usaha perkebunan karet yang masih menjanjikan serta dari pengembangan kebun yang ada, yang telah menghasilkan bila dibandingkan dengan sebagian besar masyarakat/anggota yang masih menanam singkong dengan masyarakat/anggota yang telah mengembangkan usaha perkebunan karet dengan bantuan kredit program pemerintah berupa KKPA Maka diidentifikasi beberapa permasalahan antara lain :

  1. Faktor–faktor apa saja yang mempengaruhi keinginan masyarakat dalam memanfaatkan kredit KKPA.

  2. Bagaimana pengaruh faktor produksi fisik yang digunakan terhadap tingkat produksi karet pada perkebunan karet yang memanfaatkan KKPA. 3. Bagaimana pengaruh KKPA dalam meningkatkan pendapatan petani

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dari permasalahan ini antara alin sebagai berikut :

Mengetahui faktor– faktor yang mempengaruhi keinginan masyakat/anggota untuk mengambil kredit KKPA.

Mengetahui perbedaan pendapatan petani sebelum dan sesudah memanfaatkan kredit KKPA.

Menganalisis faktor–faktor produksi yang mempengaruhi tingkat produksi karet pada perkebunan karet yang memanfaatkan KKPA

TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh KKKPA terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat

Guna mendukung dan melaksanakan proyek pembangunan perkebunan karet dengan pola PIR melalui Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA), maka sistem yang digunakan adalah sistem kemitraan.  Dalam pola kemitraan ini terdapat 4 (empat) komponen utama dimana satu sama lain menjalin kerjasama sebagai mitra usaha. Keempat komponen tersebut adalah ; Peserta pola kemitraan, dalam hal ini adalah petani itu sendiri, Swasta, yaitu KUD Catur Tunggal,  Bank Pelaksana, yaitu BNI, PTPN VII sebagai pembimbing teknis dan penampung hasil.

Untuk mempermudah pengorgani sasian, maka  setiap 20 – 30 orang petani bergabung menjadi kelompok tani.  Setiap desa terdapat beberapa kelompok tani dan bergabung menjadi satu kelompok usaha, yaitu Kelompok Usaha Bersama (KUB), satu desa bisa terdapat lebih dari satu KUB, tergantung dari luas areal perkebunan. KUB akan dipimpin oleh seorang ketua KUB dan KUB inilah yang menjembatani antara KUD, PTPN VII dan bank pelaksana.
Gambar.1.  Pola Kemitraan  Kerja Sama  KKPA


Petani yang akan bertindak sebagai  peserta adalah petani yang selama ini sebagai transmigran spontan atau penduduk asli yang memiliki lahan disekitar rencana lokasi proyek, Selain itu terdapat persyaratan tambahan yaitu bersedia menandatangani perjanjian akad kredit dengan bank pelaksana dan KUD Catur Tunggal sebagai pembina/pengelola proyek.  Secara teknis si calon peserta bersedia mengikuti petunjuk dan bimbingan PTPN VII serta bersedia memenuhi ketentuan yang berlaku.

Fungsi KUD yaitu berkewajiban untuk membangun lahan usaha dengan membangun perkebunan karet seluas 2 ha/KK dengan menggunakan dana pembangunan dan modal kerja  kredit KKPA  dan juga menjamin pengembalian kredit petani peserta.   KUD sebagai wadah kelompok tani yang mempersiapkan  diri sebagai lembaga yang menyediakan sarana produksi pendukung dan ikut serta dalam pendistribusian hasil produksi. Sedangkan  kelompok tani ini merupakan koordinasi terkecil  petani peserta.  Untuk lebih jelasnya  pola kemitraan melalui KKPA dapat dilihat pada Gambar 3.

Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan yang menyangkut pilihan dari berbagai alternatif yang dihadapinya.  Dalam konteks pilihan melakukan usaha di sektor pertanian, maka dua hal yang harus dipertimbangkan adalah faktor resiko (risk) dan ketidakpastian (uncertainty).  Semakin tinggi ketidakpastian yang dihadapi, baik ketidakpastian tentang produksi maupun harga, maka semakin besar resiko yang akan dihadapi.  Faktor pasar harus pula menjadi pertimbangan utama dalam rangka meraih penerimaan.  Disamping itu, faktor modal juga turut memegang peranan penting dalam rangka penyediaan input produksi dan seringkali menjadi faktor kritis dalam pengambilan keputusan.

Dari hasil penelitian yang dilakukan  ada beberapa faktor yang mendorong petani mau memanfaatkan kredit KKPA, diantaranya adalah :

  1. Mudah dalam Memperoleh Kredit

  2. Masa Pengembalian Pinjaman Cukup Lama

  3. Suku Bunga Pinjaman Cukup Rendah

  4. Dapat Memenuhi Kebutuhan Sarana Produksi dan Lahan Siap Pakai

  5. Memiliki Penghasilan Bulanan Selama Tanaman Belum Menghasilkan

  6. Lahan Lebih Produktif

Faktor produksi yang digunakan perkebunan karet ini adalah pupuk, yaitu Urea; KCL; TSP dan Kieserit, obat-abatan yakni pestisida serta tenaga kerja.  Luas lahan yang digunakan  oleh para petani masing-masing dua hektar dengan jumlah batang sebanyak 450 batang perhektar. Untuk dua hektar lahan dibutuhkan sebanyak  900 batang.

  1. a. Pupuk Urea

Pupuk Urea merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkat produksi latek petani.. Sebagian besar responden menggunakan urea sebanyak 175 liter. Jumlah responden yang menggunakan urea tersebut sebesar 19 persen dari 100 orang responden, selebihnya mengguna kan urea sebanyak 173 liter, 174 liter dan 176 liter dimana masing-masing respondennya sebesar 7 persen, 16 persen dan 19 persen.

  1. b. Pupuk KCL

Sebagian responden menggunakan KCL sebanyak 173 liter dengan jumlah responden sebesar 40 persen, 31 persen responden menggunakan KCL sebanyak 172 liter dan hanya 4 persen dari 100 responden menggunakan KCL sebanyak 170 liter.

c.     Pupuk  TSP

Sebagian responden menggunakan 36 persen responden dari 100 responden menggunakan TSP sebanyak 123 liter, 30 persen responden menggunakan TSP sebanyak 121 liter dan hanya 8 persen dari 100 responden menggunakan TSP sebanyak 124 liter. Perbedaan penggunaan TSP ini disebabkan oleh tingkat kesuburan lahan dan lokasi lahan yang sedikit berbeda. Ada beberapa responden, lahannya terletak di daerah yang lebih tinggi dari responden yang lain. Semakin tinggi kondisi lahan, tingkat pertumbuhan tanaman sedikit terganggu.

d.     Kieserit

Besarnya penggunaan Kieserit oleh petani sebagai responden menggunakan Kieserit antara      22 - 23  liter   sebesar 43 persen dari 100 persen responden. Pada tingkat penggunaan  20 – 21 liter sebesar 37  persen responden dan hanya 20 persen   dari   100   responden  menggunakan Kieserit sebanyak 24 - 25 liter.

e.     Pestisida

Pestisida digunakan oleh petani untuk membasmi gulma dan hama yang ada di sekitar tanaman karet. Tingkat penggunaan pertisida yang dilakukan oleh petani berkisar antara 0,9 sampai 1 liter.  Sebagian petani menggunakan pestisida sebanyak 1 liter pertahun, yaitu sebanyak 87 persen responden. Penyemprotan pestisida ini dilakukan 2 kali setahun, yaitu awal musim hujan dan awal musim kemarau. Sedangkan 13 persen responden menggunakan pestisida sebanyak 0,9 liter.

METODE PENELITIAN

Dalam menganalisis penggunaan faktor produksi ini menggunakan fungsi produksi tipe linear berganda. Pada analisis ini variabel-variabel yang diduga mempengaruhi tingkat produksi adalah pupuk,  yaitu  pupuk  urea,  TSP,  KCL, Kieserit dan pestisida sebagai obat-obatan yang digunakan. Sedangkan tenaga kerja yang digunakan untuk 2 hektar sebanyak satu orang dengan hari kerja 30 hari per bulan atau 360 per tahun.  Tenaga kerja disini adalah pemilik lahan itu sendiri (family labor), walaupun ada diantara petani menggunakan tenaga kerja orang lain (hired labor), namun responden yang dipilih adalah responden yang menggarap lahannya sendiri.  Waktu kerja petani adalah 5 sampai 6 jam per hari yang dimulai antara pukul 5.00 pagi sampai pukul 11.00 wib.   Karena tenaga kerja diasumsikan konstan maka tenaga kerja tidak dimasukkan alam analisa regresi, walaupun pada kenyataannya tenaga kerja berpengaruh pada jumlah produksi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis regresi terhadap fungsi produksi tipe linear berganda dengan menggunakan Program SPSS for Window Release 10 maka diperoleh persamaan regresi yang menggambarkan hubungan faktor produksi dengan tingkat produksi karet sebagaimana terlihat pada persamaan di bawah ini:

Y   = 847,998 +  0,114  UREA + 0,0757 TSP +  0,0358 KCL + 0,0991 KEIST +       0,0237 PEST

n  =    100



Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai F-statistik sebesar 121,889 sehingga dapat dinyatakan bahwa secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap tingkat produksi karet pada tingkat kepercayaan 95 persen.  Disamping itu nilai Koefisien Determinasi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 0,866, menyatakan bahwa 86,60 persen variasi variabel terikat (tingkat  produksi) dapat  dijelaskan dengan baik (goodness of fit) oleh variasi variabel bebas (faktor produksi).

Secara parsial variabel pupuk Urea, TSP dan Kieserit berpengaruh sangat nyata terhadap tingkat produksi karet, sedangkan KCL dan Pestisida berpengaruh tidak nyata terhadap tingkat produksi karet pada tingkat signifikansi  atau a = 0,05.  Dari hasil analisis regresi juga ditemukan bahwa multikolinearitas diantara variabel bebas tidak menjadi masalah yang serius.   Hal ini dapat dilihat dari koefiosien korelasi diantara dua variabel bebas masih lebih kecil dari koefisien determinasi Menurut Klein (1967) dalam Koutsoyiannis (1978), multikolinear tidak merupakan masalah serius kecuali dalam keadaan dimana ada koefisien korelasi antara dua variabel bebas lebih besar dari koefisien determinasi.  Disamping itu, Koutsoyiannis (1978) menyatakan bahwa multikolinear akan menjadi masalah serius apabila dalam analisis regresi muncul koefisien determinasi yang besar namun  tak  satupun  atau  sedikit  sekali koefisien regresi yang signifikan meningkat sebesar 0,114 persen apabila penggunaan pupuk Urea ditingkatkan sebesar 1 persen, ceteris paribus.

Untuk membuktikan signifikansi pengaruh  pupuk Urea terhadap tingkat produksi karet , digunakan uji-t (t test) dengan mengambil tingkat kepercayaan (level of confidence) 95 persen atau dengan tingkat signifikan (level of significance) sebesar 5 persen serta derajat kebebasan sebesar (n – 6) = 94, sehingga diperoleh nilai t-tabel (t kritis) sebesar  sebesar  1,960.

Hipotesa yang diuji untuk membuktikan apakah  penggunaan pupuk Urea   berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi karet, ceteris paribus adalah sebagai berikut :

Ho : b1= 0  ;   Ha : b1 ¹ 0

Berdasarkan analisis regeresi diperoleh nilai t hitung (t satistik) sebesar 6,493 yang ternyata lebih besar dari t tabel (6,493 > 1,690),  ini berarti Ho (hipotesa awal) berada pada daerah penolakan dan hipotesa alternatif berada pada daerah penerimaan.  Hal ini menunjukkan bahwa  pupuk Urea berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah produksi pada tingkat kepercayaan 95 persen.

1.  Pupuk TSP

Pupuk TSP juga menunjukkan hubungan yang positip dengan produksi karet, ini berarti bahwa perubahan penggunaan pupuk Urea akan berpengaruh terhadap perubahan produksi karet dengan arah yang sama.  Koefisien regeresi dari penggunaan pupuk TSP adalah sebesar 0,0757 sehingga dapat dintrepretasikan bahwa produksi karet akan meningkat sebesar 0,0757 persen apabila  penggunaan  pupuk TSP ditingkatkan sebesar 1 persen, ceteris paribus.

Untuk membuktikan signifikansi pengaruh  pupuk TSP terhadap tingkat produksi karet, digunakan uji-t (t test) dengan mengambil tingkat kepercayaan (level of confidence) 95 persen atau dengan tingkat signifikan (level of significance) sebesar 5 persen serta derajat kebebasan sebesar (n – 6) = 94, sehingga diperoleh nilai t-tabel (t kritis) sebesar  sebesar  1,960.

Hipotesa yang diuji untuk membuktikan apakah  penggunaan pupuk Urea   berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi karet, ceteris paribus adalah sebagai berikut :

Ho : b2 = 0  ;   Ha : b2 ¹ 0, Berdasarkan analisis regeresi diperoleh nilai t hitung (t satistik) sebesar 4,395 yang ternyata lebih besar dari t tabel (4,395 > 1,690),  ini berarti Ho (hipotesa awal) berada pada daerah penolakan dan hipotesa alternatif berada pada daerah penerimaan.  Hal ini menunjukkan bahwa  pupuk TSP juga berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah produksi pada tingkat kepercayaan 95 persen.



2.  Pupuk KCL

Pupuk KCl, seperti halnya Urea dan TSP, menunjukkan hubungan yang positip dengan produksi karet, ini berarti bahwa perubahan penggunaan pupuk KCl akan berpengaruh terhadap perubahan produksi karet dengan arah yang sama.  Koefisien regeresi dari penggunaan KCl adalah sebesar 0,0358 sehingga dapat dintrepretasikan bahwa produksi karet akan meningkat sebesar 0,0358 persen apabila penggunaan pupuk KCl ditingkatkan sebesar 1 persen, ceteris paribus.

Untuk membuktikan signifikansi pengaruh  pupuk KCl terhadap tingkat produksi karet , digunakan uji-t (t test) dengan mengambil tingkat kepercayaan (level of confidence) 95 persen atau dengan tingkat signifikan (level of significance) sebesar 5 persen serta derajat kebebasan sebesar (n – 6) = 94, sehingga diperoleh nilai t-tabel (t kritis) sebesar  sebesar  1,960.

Hipotesa yang diuji untuk membuktikan apakah  penggunaan pupuk KCl   berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi karet, ceteris paribus adalah sebagai berikut :

Ho : b3= 0  ;   Ha : b3 ¹ 0,  Berdasarkan analisis regeresi diperoleh nilai t hitung (t satistik) sebesar 1,649 yang ternyata lebih kecil dari t tabel (1,649 < 1,690),  ini berarti Ho (hipotesa awal) berada pada daerah penerimaan dan hipotesa  alternatif  berada  pada  daerah penolakan.  Hal ini menunjukkan bahwa  pupuk KCl tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah produksi pada tingkat kepercayaan 95 persen.



3. Kieserit

Kieserit menunjukkan hubungan yang positip dengan produksi karet, ini berarti bahwa perubahan penggunaan Kieserit akan berpengaruh terhadap perubahan produksi karet dengan arah yang sama.  Koefisien regeresi dari penggunaan Kieserit adalah sebesar 0,0991 sehingga dapat dintrepretasikan bahwa produksi karet akan meningkat sebesar 0,0991 persen apabila penggunaan Kieserit ditingkatkan sebesar 1 persen, ceteris paribus.

Berdasarkan analisis regeresi diperoleh nilai t hitung (t satistik) sebesar 6,826 yang ternyata lebih besar dari t tabel (6,826 > 1,690),  ini berarti Ho (hipotesa awal) berada pada daerah penolakan dan hipotesa alternatif berada pada daerah penerimaan.  Hal ini menunjukkan bahwa  Kieserit berpengaruh nyata terhadap peningkatan jumlah produksi pada tingkat kepercayaan 95 persen.

4.   Pestisida

Pestisida menunjukkan hubungan yang positip dengan produksi karet, ini berarti bahwa perubahan penggunaan Pestisida akan berpengaruh terhadap perubahan produksi karet dengan arah yang sama.  Koefisien regeresi dari penggunaan Pestisida adalah sebesar 0,0237 sehingga dapat dintrepretasikan bahwa produksi karet akan meningkat kecil sekali yaitu hanya sebesar 0,0237 persen apabila penggunaan Pestisida ditingkatkan sebesar 1 persen, ceteris paribus.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas  terlihat bahwa pupuk yang sangat mempengaruhi produksi getah karet adalah pupuk urea, kemudian baru pupuk kiesserit. Pupuk yang kecil manfaatnya dalam meningkatkan produksi getah karet adalah KCL. Sedangkan untuk obat hama, dalam hal ini adalah pestisida memberikan kontribusi yang cukup kecil.  Hasil penelitian sebelimnya menyatakan bahwa kredit pola KKPA menguntukan bagi petani, dengan demikian akan semakin banyak lahan yang dibuka dalam rangka pengembangan perkebunan karet ini. Dengan semakin luasnya areal kebun karet yang akan dibangun  akan memberikan dampak positif bagi pengembangan pabrik pupuk.  Permintaan  pupuk dapat meningkat sehingga pabrik pupuk dapat meningkatkan produksinya dan bagi penyalur pupuk, dalam hal ini adalah koperasi dapat meningkatkan penghasilan yang akhirnya berimbas pada anggota. SHU yang diterima oleh anggota juga turut meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan koperasi tersebut.

  1. 5. Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Tani

Pendapan yang tinggi merupakan tujuan akhir dari kegiatan usaha tani, hasil in dapat dilihat dari jumlah produksi yang dihasilkan. Besar atau kecilnya pendapatan yang diperoleh tersebut tidak terlepas dari faktor – faktor yang mempengaruhinya, dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua yaitu aspek sumber daya dan aspek kelembagaan (Rusdan, 1993 hal 68)

6. Aspek Sumber Daya

Aspek yang merupakan bagian penting dari usaha tani adalah aspek sumber daya alam dan sumber daya manusia.

7. Sumber Daya Alam

Alam merupakan faktor asli dalam segala bidang produksi, khususnya bidang pertanian. Pentingnya faktor produksi tanah ini bukan saja dilihat dari segi luas tanah, tetapi juga kesuburan tanah.

8 .Sumber Daya Manusia

Tingkat pendidikan yang dimiliki petani  akan mempengaruhi pola fikir petani dalam mengambul keputusan dan mempetimbangkan segala tindakan yang akan dilakukan. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan petani untuk meningkatkan produktivitsanya serta kemapuan petani  dalam menyerap informasi yang ada di sekitarnya.

A.  Pengaruh KKPA Terhadap Pendapatan Petani

Kredit  Koperasi Primer untuk Anggota yang disalurkan oleh bank melalui KUD yang berbentuk paket sarana produksi dan uang tunai untuk biaya garap lahan. Program ini  merupakan salah satu faktor penunjang yang penting dalam pembangunan sektor pertanian, guna meningkatkan produktivitas petani sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Dalam program KKPA ini si petani hanya menyediakan lahan. Baik pembukaan lahan sampai tanaman siap di sadap semua biaya berasal KKPA tersebut. Si pemilik lahan selama tanaman belum menghasilkan mereka dapat bekerja di lahan mereka dengan status pekerja dan mendapat upah bulanan.

Selain bekerja di lahan mereka sendiri, para petani ini mendapat bimbingan dan penyuluhan dari PT Pekebunan Nasional VII wilayah lampung. Para petani ini membentuk kelompok tani yang beranggotakan minimal 20 orang petani untuk setiap kelompok tani. Dari masing-masing kelompok tani ini akan terbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB), dimana masing-masing  desa terdapat  satu KUB.

Hal ini berarti peranan kelompok tani dan KUD semakin merakyat, karena KKPA disalurkan melalui KUD. Secara tidak langsung berati penyaluran KKPA  juga telah berperan dalam memasyarakat kan kehidupan berkoperasi.

Untuk tingkat pendidikan SLTP, peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 74,080 persen. Peningkatan tertinggi pada kelompok ini  sebesar 85, 208 persen atau meningkat dari Rp 106.500,00 menjadi Rp 720.000,00.  Peningkatan terendah sebesar 64,81 persen dengan tingkat pendapatan dari Rp 246.000 meningkat menjadi Rp 699.000,00

Sedangkan untuk  tingkat pendidikan SLTA, peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 75, 454 persen.  Peningkatan tertinggi pada kelompok ini  sebesar 86, 223 persen atau meningkat dari Rp 98.500,00 menjadi Rp 715.000,00. Peningkatan terendah sebesar 62,395 persen dengan tingkat pendapatan dari  Rp 263.500 meningkat menjadi Rp 700.700,00.

Untuk tingkat pendidikan SD dengan jumlah responden sebanyak tiga orang, peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 68,993 persen.  Peningkatan tertinggi pada kelompok ini  sebesar 80,142 persen atau meningkat dari Rp 140.000,00 menjadi Rp 705.000,00.  Peningkatan terendah sebesar 60,860 persen dengan tingkat pendapatan dari Rp 233.900 meningkat menjadi Rp 597.600,00.

Tingkat pendidikan terakhir adalah Strata 1 (S1).  Pada tingkat pendidikan ini jumlah responden sebanyak 2 orang. Bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan SLTA.  Peningkatan pendapatan pada tingkat pendidikan S1 ini lebih kecil, yaitu rata-rata sebesar 70,136 persen.

Permintaan bahan baku karet untuk tahun 1995 sebesar 385.585 ton, sedangkan untuk tahun 1996 mengalami peningkatn yang cukup tajam yaitu sebesar 1.660.775 ton. Jika dibandingkan dengan produksi karet lampung secara keseluruhan tahun 1995 hanya sebesar 190,456 ton atau hanya sekitar 0.05 persen dari kebutuhan dalam negeri. Sedangkan tahun 1996 produksi ampung hanya sebesar 232,960  atau sekitar 0.014 persen (lihat tabel II.4).  Secara keseluruhan produksi karet lampung untuk tahun 1995 dan 1996 hanya mampu memenuhi kurang dari 1 persen. Pada tahun 1996 permintaan akan karet alam terbesar adalah pada industri penggilingan baja yaitu sebesar 952.267 ton. Berartiuntuk saat ini Propinsi Lampung belum bisa memenuhi 1 peersen kebutuhan karet dalam negeri. Ini hanya untuk kebutuhan dalam negeri.

Belum lagi permintaan karet alam untuk luar negeri. Ternyata permintaan karet alam ini  cukup besar pertahunnya. Sedangkan supply dalam negeri untuk sekarang hanya sekitar 45 persen untuk memenuhi keseluruhan permintaan.

Dengan dikembangkannya pola kredit KKPA ini, areal perkebunan karet semakin luas mengingat masih luasnya lahan yang dapat dikembangkan.  Luasnya areal perkebunan ini memungkinkan penduduk dapat ikut serta dalam pengem bangan karet  sehingga supply karet Indonesia dapat meningkat. Pada gilirannya nanti Indonesia dapat menjadi pemasok karet terbesar di dunia. Dengan demikian akan terlihat dampak positif dari pengembangan perkebunan karet ini, dengan asumsi harga karet dipasaran cukup stabil yaitu terjadinya penyerapan tenaga kerja di sektor perkebunan cukup besar, sehingga dapat mengurangi jumlah penggangguran. Selain itu yang utama adalah terjadinya  peningkatan pendapatan masyarakat yang giliranya akan meningkatkan  kesejahteraan masyarakat.  Pendapatan petani meningkat akan berdampak pada peningkatan konsumsi yang akhirnya akan meingkatkan pendapatan nasional kita.

Secara terperinci dapat dilihat faktor-faktor yang mendorong pembangunan perkebunan karet di propinsi Lampung.

  1. Berdasarkan data statistik dinas perkebunan tahun 1997 ada 111.587 hektar lahan perkebunan karet yang sudah tua dan tidak produktif yang perlu diremajakan. Selain itu hanya sekitar 50 persen dari luas areal yang ada baru berproduksi.

  2. Lahan untuk perkebunan masih tersedia dengan kondisi agroklimat cukup    mendukung   usaha pengembangan perkebunan karet.  Selain itu juga tersedianya balai-balai penelitian untuk meningkatkan mutu karet rakyat.

  3. Adanya potensi daya serap pasar lokal dengan adanya permintaan slap dari pabrik crumbrubber yang berpotensi dibawah kapasitas terpasang karena kekurangan bahan baku.

  4. Peluang pasar ekspor masih cukup prospektif.

  5. Adanya program pemerintah untuk menggalakkan investasi sektor produktif melalui beberapa kredit yang mempunyai nilai yang besar dalam jangkla panjang.

  6. Komoditas hasil perkebunan karet memberikan nilai yang cukuo besar dalam jangka panjang dengan masa panen dimulai saat karet berumur 6 tahun hingga 30 tahun.


KESIMPULAN DAN SARAN


Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Beberapa faktor yang mendorong masyarakat memanfaatkan KKPA, diantaranya adalah mudah dalam memperoleh kredit KKPA, masa pengembalian cukup lama, suku bunga  pinjaman cukup rendah, yaitu sebesar 14 persen per tahun, dapat memenuhi kebutuhan sarana produksi dan lahan siap pakai, memiliki penghasilan bulanan selama tanaman belum menghasilkandan lahan lebih produktif.

  2. Dengan adanya kredit KKPA ini pendapatan masyarakat mengalami peningkatan. Karena itu semakin banyak  masyarakat yang beralih ke tanaman karet

  3. Adanya KKPA menimbulkan hubungan pola kemitraan antara  petani, KUD,   PTPN  VII dan bank, dan mendukung program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah sekaligus turut meningkatkan pembangunan sektor pertanian umumnya dan sub sektor perkebunan khususnya.

  4. Variabel dependen yaitu produksi dengan variabel independen yaitu Urea, TSP, KCl, Kiesen, dan pestisida menunjukkan hubungan yang positif, yaitu apabila variabel independen meningkat maka menyebabkan variabel dependen mengalami peningkatan.

  5. 5. Secara statistik peningkatan pendapatan petani sangat signifikan dengan adanya pola KKPA. .




DAFTAR RUJUKAN


Pasaribu, Amudi. 1975. Ekonometrika. Borta Gorat. Medan.

Algamar, K. 1979. Masalah Perdagangan Karet Dalam Negeri. Menara Perkebunan Balai Perkebunan Bogor.

Baharsyah, S. 1991. Kebijakan Pembangunan Pertanian Dalam Rangka Penanggulangan Kemiskinan. Prosiding Seminar Dan Lokakakarya Nasional Penanggulangan Kemisikinan. IPB. Bogor.

Boediono. 1986. Ekonomi Makro. PT. Gramedia Utama. Jakarta.

Downey, WD, and SP Ericson. 1986. Agribusiness Management. Mac Graw Hill Inn.

Dayan, Anto. 1985. Pengantar Metode Statistik. Jilid I. Lembaga Penelitian, Pendidikan Dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.

Hermanto, F. 1989. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya. Jakarta.

I Gusti Ngurah Agung. 1992. Metode Penelitian Sosial, Pengertian Dan Pemakaian Praktis. PT Gramedia Utama. Jakarta.

Koutsoyianis, A. 1985. Theory of Econometrics, An Introductory Exposition of Econometric Method. 2nd. Macmillan Publisher Ltd. Hongkong.

Kartasaputra, A.G. 1988. Pengantar Produksi Ekonomi Pertanian. Bina Aksara Jakarta.

Mubiyanto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga Dan Penerangan Ekonomi  Sosial Ekonomi. Aditya Media. Yogyakarta.

Dewanta, 1991. Karet: Kajian Sosial Ekonomi. Aditya Media Yogyakarta.

Mubiayarto, dan AS. Beberapa Jenis Mutu Karet Dan Perkembangannya. Buletin Perkaretan. Pusat Penelitian Sungai Putih. Medan.

Rusdan, Muhammad. 1993. Peran Teknologi Pra Panen Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Padi. Skripsi.  Tidak diterbitkan. Palembang.

Soekartawi. 1991. Agribisnis, Teori Dan Aplikasinya. Rajawali. Jakarta.

Suharjo, A. dan Dahlan Patong. 1973.  Sendi-sendi Usaha Tani. IPB. Bogor.

Sjarkawi, F, dan L. Bakir. 1994. Manajemen Agribisnis. Universitas Sriwijaya. Palembang.

Supranto, J. 1983. Ekonometrika. Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Surat Keputusan Bank Indonesia. Juni 1995. Tentang KUT. Jakarta.

Surya Alamsyah. 2000. Pengaruh Kredit Usaha Tani (KUT) dalam Meningkatkan Produksi  Padi Dan Pendapatan Petani. Skripsi. Tidak diterbitkan.

Taufik. 1992. Pendapatan dan Distribusi Pendapatan Petani Peserta Dan Bukan Peserta KUT. Skripsi. Tidak diterbitkan. Palembang.

Tohir, K.A. 1991. Seuntai Pengetahuan Tentang Usaha Tani Indonesia. Bina Aksara. Jakarta.

Teken, L.G.B. 1971. Supply and Demand of Rubber For Indonesian. Agricultural Ekonomic. Purdue University. Ph.D. Thesis.

Tomek, W.G. Dan Robenson, K.I. 1981. Agricultural Product Price. Cornell University Press. Itlantha.

____________. 1990. Buku Pegangan Kependudukan. Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

____________.  Kajian Ekonomi Bisnis. PT. Bank Negara Indonesia (Persero). Tbk. Divisi Perencanaan Strategis.

____________. Surat Keputusan Bank Indonesia No. 27/11/KEP/DIR. Bank Indonesia.






[1]) Disarikan dari Tesis Magister

2) Alumni Program Studi Ilmu Ekonomi PPS UNSRI