Senyum...

Sewaktu remaja, aku melihat ibuku sedang melukis seorang wanita Bali yang kira2 sama dengan lukisan yang pernah di buat oleh Bapakku.
Tergoda melihat ketekunan Ibu, aku segera mengambil kertas untuk menggambar. Tapi ternyata aku lupa dimana aku menyimpan kotak pensil warnaku. Merasa niatan terputus oleh tidak adanya sarana, aku jadi marah dengan kata-kata yang buruk.

Nenekku yang mendengar, segera memanggilku, dan mengucapkan nasihat: "Panggil dan sebutlah setiap benda yang sering kau gunakan dengan senyummu yang paling indah. Maka mereka juga akan memberikan keindahan yang lebih indah dari senyummu".

Mendengar itu aku terdiam, dan merasa bahwa itu ucapan-ucapan orang tua dulu yang sering tidak logis.

Tapi sekarang ketika terompah kakiku telah melangkah jauh melampaui ratusan ribu mil putaran bumi. Aku memahami. Bahwa ketika kita akan memulai sebuah pekerjaan, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan hasil yang baik, jika dimulai dengan hati yang rusuh dan terkotori.
Seperti tidak mungkinnya Musashi menorehkan kuasnya seperti pedang menetak galah pengering, jika didalam jiwanya terkotori oleh api dan debu dunia.

Senyum, dan keterlepasan kita dari noda pikiran dan hati, ternyata memang awal dari suksesnya sebuah karya.

Oleh Thiantana Pandji

3 comments:

Yang Berkunjung, Wajib Komentar

Blogger Template by Clairvo